Fix It, Not Throw It Away
Manusia adalah makhluk yang kompleks. Setiap individunya memiliki sifat, kode etik, dan moral yang berbeda. Ini yang menjadikan kita unik, yang menjadikan setiap orang berbeda. Perbedaan inilah yang menjadi sebuah tantangan dalam interaksi sosial. Bagaimana setiap orang harus bertoleransi dan beradaptasi dengan lingkungan dan sesamanya.
Human and their possessions.
Setiap orang pada umumnya memiliki sifat dasar untuk memperbaiki, membangun dan menciptakan sesuatu. It gave them purpose.
Bagaimana bila seseorang memiliki barang yang rusak? Insting pertama yang kita lakukan adalah mencoba memperbaikinya.
Ban bocor? Tidak langsung dibuang, tapi kita tambal kembali. TV tidak bisa menyala? Kita baca petunjuk dan mencari tahu cara memperbaikinya. Handphone rusak? Kita mati-matian mencari solusinya di internet.
Bahkan, saat kita tidak mampu memperbaikinya sendiri, kita meminta saran dari orang lain bahkan mencoba meminta para "expert" untuk memperbaikinya.
Kita berjuang keras untuk memperbaiki barang yang rusak, jauh sebelum kita terpikirkan untuk membeli barang baru.
Kenapa ini tidak dapat diaplikasikan kepada sesama manusia? Padahal, manusia merupakan sesuatu yang sangat bernilai, jauh melebihi harga barang-barang yang kita miliki.
Sebuah persahabatan hancur karena sebuah berita miring, pasangan berpisah hanya karna sebuah pertengkaran, keluarga terpecah hanya karena berbeda pendapat.
Kita saat ini sangat mudah sekali menggantikan seseorang dengan orang lain, tanpa mempertimbangkan nilai orang tersebut dalam kehidupan kita. Hanya karena tidak mau repot dan tidak mau pusing, kita memilih untuk berhenti dan menyerah.
Kita menyisihkan nilai-nilai positif yang kita dapat dari seseorang, hanya karena ada sedikit masalah dan perbedaan di dalamnya.
Tentu, kadang kita berusaha memperbaiki sesuatu dan pada akhirnya jika memang sudah terlanjur rusak, maka tidak ada jalan lain selain melepaskan. Tapi kata kuncinya ada disana: "Berusaha". Sampai dimana usaha kita? Sejauh mana kita sudah mencoba untuk memperbaikinya? Benarkah kita sudah mencoba mencari dimana sumber masalahnya dan mencoba menyelesaikannya?
Metaphorically speaking
Sebuah laptop rusak, dan kita memutuskan untuk membeli yang baru. Yang baru rusak, kita beli lagi penggantinya. Tentu semuanya nampak mudah dan berjalan sesuai keinginan kita. Tapi apakah ada pembelajaran disana? Kita hanya tau cara memakainya, tanpa mengerti betul bagaimana cara bekerjanya. apakah kita akan terus menerus membeli laptop baru?
Bandingkan dengan:
Sebuah laptop rusak. Kita coba mencari tau dimana kerusakannya. Dalam proses itu, kita tau tentang cara kerja laptop tersebut. Part-part kecil yang membuat laptop itu bekerja. Dan kita pun belajar mengatasi kerusakannya. Tentu, bisa saja laptop itu mati total dan kita harus menggantinya dengan yang baru. Tapi dengan pengalaman kita sebelumnya, kita lebih mengerti, dan mampu mengantisipasi kerusakan yang mungkin terjadi kedepannya nanti.
Sekarang kita aplikasikan ini kepada hubungan kita dengan sesama manusia. Mungkin kita bisa menggantikan mereka dengan siapa saja. Tapi akankah semua itu terus bertahan?
Interaksi antara manusia merupakan sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang tidak dimiliki semua makhluk di dunia. Treasure your family, treasure your friends, treasure everyone that have been given to you.
If it's broken, try to fix it.
Don't just throw it away.

Comments
Post a Comment